Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Dua orang sibuk

Pernahkah anda diposisi ketika kesibukan sudah sangat menyelimuti anda.
     Selimut ya selimut, sibuk ya sibuk.
Menyelimuti bagaikan gemuruh awan tebal yang bersiap mengeluarkan badai besar di langit sana. Kepala anda dibuat pusing, badan anda dibuat menggigil karena kurang tidur, mata merah perih sehingga wajah anda mulai mengeluarkan ekspresi yang aneh, anda sendiri pasti malas untuk melihatnya.
     Deadline besok hari, ini belum selesai, itu belum di kerjain, Mas ini udah nunggu, Mba itu udah marah-marah mati aja, asik deh sibuk.

Senin, 25 Juni 2012

Nikmat

Halo, perkenalkan namaku Ancy. Aku perempuan kuat, keras, kasar, dan sedikit gahar seperti orang-orang sejenisku yang lain. Orang bilang tampang ku galak, hah yang benar saja. Padahal menurutku sendiri tampangku ini sangat imut-imut dan cantik. Tapi yasudahlah, tak salah juga kalau aku merealisasikan apa yang ada di tampang ku ini. Toh stigma itu bukan aku yang menginginkannya. Aku hidup dalam kesendirian di kota ini. Seluruh keluargaku tinggal diseberang pulau sana. Pertama kali aku datang ke kota, aku kesepian. Aku tak tahu harus berbuat apa awalnya. Namun akhirnya aku menemukan kesenangan sendiri dengan mengamati hal. Aku selalu mencari hal apa saja yang bisa melupakanku dari kesendirian ini. Hal kecil aku jadikan besar, hal besar aku jadikan lebih besar. Dengan itu juga aku bisa menyindir orang-orang disekelilingku. Aku  tantang mereka, siapa yang berani denganku. Lebih lagi yang tidak berdaya. Ada, ada? Tidak ada ternyata.

Jumat, 22 Juni 2012

Andai saja

Besok dia akan pergi. Pergi untuk tak berjumpa kembali, denganku apalagi. Dia yang sudah tiga tahun kukenal. Dari biasa menjadi tak biasa. Kepalang aku dibuatnya. Senyumnya, tawanya, geraknya. Sama sepertiku, sepertinya dia menyembunyikan perasaannya kurasa, bisa sekali dia. Kenangan itu seperti baru kemarin rasanya. Aku bercakap, bercanda, kita saling tertarik memikat. Andaikan memang seperti itu, karena aku sendiri sedang berandai. 

Dia seseorang yatim-piatu, pamannya menitipkan dia di panti asuhan ini. Dia gadis biasa, sama seperti gadis lain yang aku kenal. Namun entah kenapa, aku dibuat tidak bisa bersikap adil karenanya. Entah kapan, pandangan ku melihat dia berbeda ketika melihat gadis lain. Suatu ketika, dia sangat cantik. Dia menghibur temannya dengan kekurangannya. Dia tersenyum manis menertawai dirinya sendiri. Dia senang, senang melihat temannya tertawa. Ah, cantik sekali dia. Murungnya, merupakan hal yang termanis yang pernah kulihat. Manis ditengah kemirisan, melihatnya dan melihat diriku. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Hanya diam dan berandai. Andai saja aku bisa membuatnya selalu tertawa karena kehadiranku.

Selasa, 19 Juni 2012

Untuk siapa?

Polandia 1930, pasukan Jerman menyerang kota Warsaw. Dalam sebuah ruangan berdiri dua orang laki-laki dengan postur tubuh yang kurang lebih sama. Anda yakin anak muda? Jangan pernah meremehkan kekuatan yang menghadang kita disana! Mereka kuat! Dia kuat! Kita? Hanya segerombolan tikus got dihadapan mereka! Pikirkan lagi!  Kapten Szalvik berkata dengan lantang. Dihadapannya berdiri anak muda, dengan wajah menghadap ke lantai yang bercorak merah tua. Badannya terlihat gemetar, mungkin gugup. Dia coba menaikan wajahnya, memandang ke arah kapten Szalvik, sekilas wajah itu memang tidak memperlihatkan kegugupan. Namun sepertinya anak muda itu menyembunyikan sesuatu. Tapi waktu tinggal tujuh hari lagi kapten. Kami sudah mempersiapkan ini dengan matang. Menurut kapten, akankah saya dan kawan-kawan diam saja ketika ditindas? Kawan-kawan saya orang yang keras kapten! Aku yakin penyerbuan ini akan berhasil. Lima belas pucuk handgun, dan dua puluh pucuk senapan serbu sudah kami persiapkan. Belum lagi granat dan alat peledak lainnya. Sekali lagi aku yakin, kami bisa membuat kelabakan pasukan Jerman yang ada disana!.

Suasana hening.. Anak muda itu kembali mengarahkan pandangannya ke lantai. Kapten terdiam sejenak, memikirkan perkataan anak muda itu. Kapten memundurkan langkahnya, lalu duduk disebuah meja kerja. Diambilnya segelas vodka yang terletak dimeja, lalu diminumnya vodka itu. Kita ini sedang sakit. Kita ada di ambang kehancuran, golongan tua kita sudah tak berdaya. Tak ada upaya yang bisa mereka lakukan. Kota ini, Negara ini tinggal menunggu ajalnya. Coba lihat jumlah pasukan Jerman yang ada di kamp sana. Jauh lebih banyak dari jumlah pasukan kita! Apakah kamu tahu tentang cerita empat kapten Jerman yang sedang kita hadapi sekarang? Henrick si tangan besi,

Sabtu, 09 Juni 2012

Perspektif

Dua mata itu, memandang dengan tatapan kosong. Pandangannya lurus kedepan, menatap haru kepada seseorang. Momen saat ini memang sedih, “pesta” perginya seorang untuk selamanya . Namun dia melihat kesedihan lain. Bukan sedih, miris mungkin. Kemirisan diantara puluhan orang lain yang sedih. Seorang laki-laki menjadi perhatiannya. Dia terlihat miris ditengah kesedihan yang berusaha ia tunjukan. “Dia memang miris, lebih miris mungkin daripada diriku yang hanya hidup sebagai makhluk menjijikan”. Matanya terus memperhatikan laki-laki itu. Raut muka laki-laki itu penuh dengan pembenaran dari apa yang ia lakukan. Merasa diperhatikan, laki-laki itu mencari siapa yang memperhatikannya. Pandangannya terarah kepada makhluk hitam, kecil berbulu, penuh luka ditubuhnya, dan pasti penuh dengan bau tak sedap. Seekor tikus got ternyata. “Kasian sekali tikus itu, menjijikan, dan hidupnya pasti miris sekali” pikirnya.  Ah sudahlah..